Kamis, 20 September 2012

Mengananisis Sumber Daya Manusia ( SDM ) di Indonesia

Rangkuman Dari Beberapa Blog,Website,dan Buku


Sumber Daya Manusia Dalam Wirausaha
      Dalam menjalankan usahanya, seseorang wirausaha membutuhkan berbagai sarana, Misalnya bahan, alat, ataupun perlengkapan lainnya.segala kebutuhan wirausaha yang diperlukan tersebut diantaranya meliputi sumber daya atau faktor produksi. Secara umum, sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan sebuah kegiatan usaha adalah sumber daya manusia, sumber daya alam,sumber daya modal, sumber daya manajerial dan teknologi.

      Sumber daya manusia adalah tenaga kerja yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan usaha. Secara garis besar, sumber daya dapat dibagi ke dalam beberapa golongan, yaitu:
a.       Tenaga kerja terlatih.
b.      Tenaga kerja terdidik, dan
c.       Tenaga kerja tidak telatih atau terdidik.
      Sumber daya manajerial pada dasarnya merupakan sumber daya manusia. Dalam sumber daya manajerial, tenaga kerja harus memiliki kemampuan mengelolah dan mengorganisir seluruh sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan perusahaan.

      Filed Under: Umum
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut kondisi SDM Indonesia, yaitu:
      Pertama adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan angkatan kerja. jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta orang penganggur terbuka (open nemployment). Angka ini meningkat terus selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.

      Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi.
      Ketiga,lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.
      Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000 orang. Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya perguruan tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana merupakan kritik bagi perguruan tinggi dan sekolah negeri, karena ketidakmampuannya dalam menciptakan iklim pendidikan yang mendukung kemampuan wirausaha siswanya.
      Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai. Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi. Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM dalam menghadapi persaingan ekonomi global
Sumber Daya Manusia Indonesia Di Era Globalisasi

      Indonesia kini menghadapi tantangan baru dalam memasuki era globalisasi. Di sisi lain permasalahan internal juga datang silih berganti, isu-isu kritis yang sering muncul adalah adanya keinginan untuk melakukan perbaikan di segala bidang termasuk pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu komponen supra system pembangunan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pembangunan didefinisikan sebagai upaya suatu bangsa untuk meningkatkan mutu dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang berkelanjutan. Sedangkan menurut Soerjono Soekamto Pembangunan merupakan suatu proses perubahan di segala bidang kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu. Pembangunan nasional Indonesia misalnya, merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan berdasarkan rencana tertentu dengan sengaja dan memang dikehendaki , baik oleh pemerintah yang menjadi pelopor pembangunan maupun masyarakat . Dari pernyataan di atas dapat kita lihat bahwa untuk membangun suatu bangsa diperlukan sumber daya baik alam maupun manusia. Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam proses keberhasilan suatu pembangunan. Jepang merupakan salah satu contoh negara yang tidak mempunya sumber daya alam yang melimpah tetapi Ia mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga Jepang kini menjadi salah satu negara yang di segani dalam tataran dunia internasional. SDM yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Karena SDM yang berkualitas dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan. globalisasi.

      Globalisasi merupakan proses mendunia dengan tingkat perubahan yang cepat dan radikal di berbagai aspek kehidupan manusia karena adanya teknologi. Kini kita merasa dunia semakin menyusut, dengan kecanggihan teknologi kita tidak tersekat lagi oleh ruang dan waktu. Dengan teknologi kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dan kapan saja dan dimana saja. Tetapi dibalik kecanggihan dan perubahan yang terjadi dapat menimbulkan ketimpangan jika kita tidak siap dengan adanya perubahan sehingga bisa terjadi ketimpangan budaya yang tentunya akan merugikan kita. Permasalahan dunia dan permasalahan nasional yang semakin komplek menuntut kita untuk senantiasa belajar agar tidak gagap terhadap perubahan. Jumlah penduduk yang semakin meningkat, cadangan energi yang kian menipis, ragam budaya yang berbeda, konflik internal dan internasional mengharuskan kita untuk senantiasa belajar. Fakta yang ada memperlihatkan bahwa pendidikan konvensional pada saat ini kurang memberikan kontribusi terhadap pemecahan masalah yang ada malah semakin memperlebar kesenjangan yang ada. Semakin tinggi seseorang sekolah semakin tercerabut ia dari kehidupan. Pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan alternative yang dapat memberikan warna baru dalam dunia pendidikan. Pada era tahun 70an mengalami fase-fase keemasan, tetapi kini Pendidikan luar sekolah mulai menggeliat untuk bisa berkontribusi kembali dalam membentuk SDM-SDM yang berkualitas dan berjalan beriringan dengan pendidikan jalur persekolahan.
      Lewat Program-programnya diharapkan PLS mampu memberikan kontribusi dalam melahirkan generasi unggul yang siap untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang mempunyai wibawa dan disegani, disamping siap berkompetisi lebih terbuka di tataran internasional Makalah ini mencoba menguraikan tentang bagaimana pendidikan luar sekolah dapat menjadi jembatan untuk bisa memecahkan permasalahan yang ada serta memberikan kontribusi dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas sebagai modal utama dalam pembangunan untuk menghadapi globalisasi.

Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia di Dunia

      Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat padat, kira-kira terdapat 232,516.8 juta jiwa lebih penduduk di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, Indonesia memliki potensi SDM yang sangat besar dari segi kuantitas, lalu bagaimana kualitas SDM indonesia di mata dunia.
     Menurut data dari Human Development Indeks, Indonesia berada pada peringkat 108 di dunia dari segi Kualitas SDM.

Human Development Index (HDI) - 2010 Rankings, SUMBER:hdr.undp.org/en/statistics/

      Harapan Hidup Manusia Di Indonesia adalah 71.5 tahun, pengeluaran untuk kesehatan di Indonesia adalah 1,2% dari dana anggaran Indonesia, sangat kecil, sehingga penanggulangan dan pencegahan penyakit di Indonesia sangat rendah hal ini dibuktikan dengan tingkat keselamatan ibu dari 100.000 kelahiran adalah 420 ibu meninggal saat melahirkan, Bandingkan dengan peringkat 1 yaitu Norwegia, yang harapan hidupnya mencapai 81 tahun lebih lama 10 tahun dari Indonesia, hal ini karena pemerintah Norwegia sangat mementingkan kesehatan warganya terbukti pengeluaran pemerintah untuk kesehatan adalah 7,5 % dari dana anggarannya,dengan tingkat keselamatan ibu pada saat melahirkan per 100.000 kelahiran adalah 7 orang
      Dari segi kualitas pendidikan, rata-rata lama orang Indonesia menempuh pendidikan adalah 12,7 tahun, jika di asumsikan dengan system pendidikan wajib belajar, rata-rata orang Indonesia menempuh pendidikan SD-SMA,setelah itu penduduk Indonesia memilih untuk bekerja, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan hanya 3,7 % dari dana anggaran Indonesia, bandiingkan dengan Norwegia, orang norwegia mampu menempuh pendidkan selama 17 tahun, hal ini tak lain dari peran pemerintah Norwegia yang mengalokasikan pengeluarannya untuk pendidikan sebanyak 6,7% dari dana anggarannya,
      Jumlah pengangguran di Indonesia cukup besar yaitu 8,4% dari total angkatan kerja di Indonesia, hal ini menunjukan banyak SDM yang menganggur atau tidak mendapatkan pekerjaan di Indonesia, Bandingkan dengan Norwegia, jumlah orang yang menganggur hanya sebesar 2% dari total angkatan kerja. Tingkat pendidkan orang Indonesia yang rata-rata hanya sampai 12,7 tahun atau sampai SMA.
     Jumlah pengangguran yang tinggi ini berdampak pada pendapatan nasional Indonesia, dana anggaran Indonesia hanya sebesar, 4,394 US4$,Total pengeluaran consumsi Rumah tangga masyarakat Indonesia adalah sebesar 2,138 US4$, Bandingkan dengan Norwaegia yang dana anggarannya besar Mencapai 58,278 US$, dan Total pengeluaran consumsi Rumah tangga masyarakat Norwegia, adalah sebesar 19,969 US$, hal ini menunjukan bahwa pendapatan orang di Indonesia rendah, dan biaya hidup yang mahal, sehingga mengurangi konsumsi masyarakat Indonesia.
      Dari semua data diatas menunjukan bahwa pembangunan Manusia di Indonesia sangat kurang, Mutu SDM yang rendah, sehingga menyebabkan perputaran lingkaran setan kemiskinan, bahkan Pekerja anak (children labour) saat ini menjadi perbincangan serius di ILO (International Labour Office),menurut laporan ILO,berdasarkan data dari SAKERNAS,di indonesia terdapat 3,7 juta pekerja anak berumur 10-17 tahun atau 10 % dari jumlah penduduk indonesia yang berumur 10-17 tahun yaitu 35.7 juta dalam laporan tersebut disebutkan juga pekerja anak mayoritas bekerja pada sektor buruh.
      Menurut Profesor Nurkse, Tingkat investasi yang rendah kembali menyebabkan modal kurang dan produktivitas rendah. Inilah yang ditunjukan dalam gambar .produktivitas rendah tercermin di dalam pendapatan nyata yang rendah. Tingkat tabungan yang rendah menyebabkan tingkat investasi rendah dan modal kurang. Kekurangan modal pada gilirannya bermuara pada produktivitas yang rendah Lingkaran setan ini dilukiskan di dalam gambar tingkat pendapatan rendah, yang mencerminkan rendahnya investasi dan kurangnya modal merupakan ciri umum kedua lingkaran setan tersebut.Lingkaran setan Kemiskinan ini menyangkut keterbelakangan manusia dan sumberdaya alam. Pengembangan sumber alam pada suatu Negara tergantung pada kemampuan produktif manusia.jika penduduknya terbelakang dan buta huruf, langka akan keterampilan teknik,pengetahuan dan aktivitas kewiraswastaan,maka sumber alam akan tetap terbengkalai,kurang atau salah guna.pada pihak lain, keterbelakangan sumber alam ini menyebabkan keterbelakangan manusia.


Lingkaran setan kemiskinan,sumber: Jhingan, M.L . Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Guritno,

      Berdasar pada informasi mengenai peringkat SDM tersebut apakah kita sebagai insan yang terdidik akan diam saja mengenai hal itu. Membangun SDM yang berkualitas sangatlah sulit. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Indonesia seharusnya bisa meniru kebijakan yang ada di China dan India. China dan India kini menjadi raksasa baru di Asia, walaupun tadinya sama-sama negara berkembang seperti Indonesia bahkan India dulunya jauh ketinggalan oleh Indonesia.
      Dari berbagai  kasus yang terjadi selma ini kita tahu bahwa masalah terbesar negeri ini adalah pada sistem pemerintahannya. Korupsi yang kian merajalela, yang sudah mengakar ke seluruh divisi atas sampai bawah. Ketidaktegasan hukum bagi koruptor sangat diperlukan dalam membenahi SDM kita. Bagaimana mau maju jika anggaran untuk pemberdayaan masyarakat telah disikat oleh para koruptor? Kunci utama untuk membenahi SDM yang berkualitas adalah dengan tindakan yang tegas dari pemerintah dan membersihkan semua lembaga yang sakit. Anak didik perlu di beri pelajaran anti korupsi sejak dari SD hingga sampai perguruan tinggi. karena generasi saat ini adalah cikal bakal pewaris Indonesia Raya.
     Kita sebagai siswa yang menyandang gelar calon pemimpin bangsa harus bisa mempersiapkan diri mulai dari diri sendiri sebelum kita terapkan kepada ruang lingkup yang lebih luas, yaitu keluarga masyarakat kemudian bangsa dan negara.
      Segala sesuatunya kita mulai dari diri sendiri, kita sebagai mahasiswa hanya bisa melakukan kewajiban sekaligus hak kita untuk belajar. Dan alangkah baiknya apabila kita bisa belajar di negeri dan menerapkan ilmunya di indonesia, karena jujur, menurut kami kualitas pendidikan indonesia dibandingkan negara-negara lain masih jauh tertinggal. Dengan cara itu, kita bisa meningkatkan taraf SDM bangsa indonesia didalam kompetisi tenaga kerja di masa globalisasi sekarang ini. Selain itu, kita juga harus bersikap lebih peduli dan kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi pada dunia sekitar kita, percuma kualitas SDM tinggi bila tidak didukung kemampuan sosialisasi yang baik. Itu tidak akan banyak berpengaruh pada bangsa dan negara kita ini.
      Ada banyak contoh konkret yang bisa kita lakukan, tapi mari kita mulai dari hal-hal kecil seperti displin. Disiplin waktu akan banyak menolong disaat kita mengerjakan sesuatu dalam tenggang waktu yang ditentukan, apabila kita sudah terbiasa berdisiplin tentunya deadline bukanlah suatu masalah lagi bagi kita. Disiplin dalam kuliah dan berorganisasi dapat membantu kita mendapatkan nilai yang tinggi sekaligus kualitas pendidikan yang baik. Itu juga sebenarnya adalah                 salah satu bentuk latihan kecil untuk menghadapi dunia kerja kelak. Selain itu, kita juga harus bisa memperbaiki etika dalam bersosialisasi. Sudah disebutkan sebelumnya, SDM tanpa kemampuan sosial yang baik adalah percuma. Jadi, hal ini tentu sangat penting untuk diperbaiki, dapat dimulai dari gaya bahasa kita, penghargaan dan penghormatan kepada orang lain, baik itu kepada mereka yang lebih tua, lebih muda, maupun sebaya.
      Bila kita sudah menerapkan hal-hal kecil diatas pada diri kita sendiri, saatnya menerapkannya pada keluarga. Dari satu kata ‘disiplin’ yang sudah berulang kali kita bahas diatas, dapat dikembangkan lagi untuk diterapkan di keluarga. Disiplin dalam mengikuti peraturan keluarga tentunya sangat penting, diantaranya ada disiplin waktu, etika, tata krama, dan banyak aspek lainnya. Bila seluruh anggota keluarga dapat melaksanakan disiplin dalam keluarga, niscaya keluarga tersebut akan menjadi keluarga yang baik, yang dapat dijadikan panutan dalam masyarakat, memberikan pengaruh baik terhadap lingkungan sekitar keluarga.
      Secara tidak langsung, keluarga yang baik membawa lingkungan sekitarnya ke arah yang baik juga. Sudah disebutkan tadi, keluarga yang baik akan menjadi panutan dalam masyarakat. Dimulai dari diri sendiri, lalu keluarga, kemudian masyarakat, kita bentuk masyarakat yang baik dan berpendidikan. Di mulai dari diri sendiri saja kita bisa meningkatkan SDM masyarakat di sekitar kita. untuk meningkatkan SDM Indonesia? Bagaimana keadaan indonesia jika melakukannya dengan cara yang sama didalam ruang lingkup yang lebih besar?

Peningkatan Kualitas SDM Indonesia
       Generasi muda Indonesia jangan merasa kalah dengan bangsa asing. Dengan level kualitas yang dimiliki, generasi muda Tanah Air memiliki kualitas yang hampir sama dan mampu bersaing di level internasional.
     Hanya saja, terkadang generasi muda Indonesia memiliki kelemahan dalam tiga hal: komunikasi dalam Bahasa Inggris, inovatif dan jiwa kewirausahaan, dan terakhir soft skill yang mencakup penilaian terhadap kemampuan diri sendiri.
      "Kemampuan memimpin, membangun orang lain, serta inovasi dan languange skill. Setidaknya inilah tiga kemampuan yang dibutuhkan yang dibutuhkan seseorang dari Indonesia untuk jadi pemimpin," kata Hasnul.
      Peningkatan kualitas ini, tambah Hasnul, mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang andal untuk masa depan Indonesia. "Bukan tidak mungkin nantinya seluruh perusahaan asing di Indonesia akan dipimpin langsung oleh orang Indonesia. Bukan bangsa asing seperti yang ada sekarang ini."
      Program Future Leaders ini berupaya menjaring mahasiswa dengan usia maksimal 21 tahun untuk diberi bekal peningkatan tiga hal tersebut. Nantinya akan ada 120 mahasiswa terpilih yang diharapkan memiliki rasa kepercayaan diri yang lebih hingga tampil sebagai pemimpin Indonesia.
      Tingginya kualitas sumber daya manusia Indonesia terlihat dari kegemilangan di kompetisi ilmu pengetahuan bertaraf internasional. Pada Mei 2012, dua anak Indonesia berhasil menyabet emas di Asian Physics Olympiad/APhO di India. Dalam kompetisi robot dunia (Robogames), akhir April lalu di Amerika Serikat, anak Indonesia sukses menyumbang tiga medali, dua di antaranya emas. Sebelumnya, Indonesia juga langganan medali di Olimpiade Matematika. 
      "Kita ini bangsa yang besar, kita harus kompetitif, dan membuktikan jika memang punya kemampuan. Kita bukan bangsa kacang," kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Firmansyah.
      Firmansyah yang juga rektor muda di UI juga ikut berbagi pengalamannya ketika mengambil gelar Master dan Doktor di Prancis. Saat itu, kata Firmansyah, beasiswa yang diterimanya hanya untuk tiga tahun. Namun, gelar yang diambilnya rangkap Master dan Doktor. Saat akhirnya ia bisa mengambil dua gelar itu dalam tiga tahun, tawaran jadi dosen pun datang. "Itulah yang coba saya tekankan, tekad dan kemauan kuat," ujar Firmansyah.




3 komentar:

  1. Boleh tau ngga ini sumber-sumbernya darimana aja? hehe trims

    BalasHapus
  2. lupa kawan. ini makalahnya dah lama (tahun 2011)

    BalasHapus